[share] Saatnya Sekolah di Indonesia Menggunakan Open Source Software


Bangsa Indonesia adalah salah satu dari banyak bangsa besar di dunia. Peranannya dalam kancah perhelatan dunia telah terdengar sejak awal zaman kemerdekaan Indonesia hingga saat ini. Bidang yang digelutinya pun seabrek, mulai dari peran aktifnya dalam politik dunia, hingga penguasaan teknologi informasi yang tidak kalah hebatnya dengan negara berbasis teknologi seperti Jepang.

Berbicara tentang teknologi informasi, bidang ini cukup banyak diminati oleh orang Indonesia, khususnya bagi remaja menengah ke atas. Banyaknya produk-produk perangkat lunak bajakan hingga buku-buku yang bisa digolongkan murah dan bisa difotocopy dengan mudahnya, menjadi surga tersendiri bagi orang-orang yang senang berhadapan dengan yang namanya komputer. Selain itu, banyaknya sekolah-sekolah dari tingkatan SD hingga SMA yang mulai mempunyai Laboratorium Komputer, membawa angin segar tersendiri bagi masyarakat Indonesia yang gemar berkecimpung dengan komputer.

Namun sejak ditandanganinya MoU antara Pemerintah Indonesia dan Pihak Microsoft yang disertai pencanangan IGOS (Indonesia Go Open Source) oleh 5 Menteri pada tahun 2004 yang lalu, membuat para penikmat software bajakan agak sedikit terganggu. Pasalnya, sejak saat itu pemerintah mulai menggalakan kampanye anti pembajakan. Lebih dari itu, pemerintah juga sedang giat-giatnya melakukan razia komputer ke warnet-warnet dan rumah-rumah untuk memastikan tidak ada lagi software bajakan, khususnya software yang diproduksi oleh Microsoft, yang digunakan.

Sejak saat itulah kampanye Open Source Software (OSS) terus digalakan, baik oleh organisasi pemerintahan maupun oleh organisasi non pemerintahan. Tidak hanya itu saja, peminat OSS pun semakin hari semakin bertambah dan tengah menjadi tren saat ini.

Lalu bagaimana dengan instansi pendidikan yang telah mempunyai pelajaran komputer di instansinya? Untuk kalangan perguruan tinggi, hal ini sudah tidak menjadi hambatan dengan adanya Campus License Agreement dengan Microsoft. Lebih dari itu, ada beberapa fakultas dan atau jurusan di perguruan tinggi yang telah mempergunakan OSS untuk komputernya sehingga tidak ada masalah dengan lisensi. Biasanya fakultas dan jurusan tersebut berorientasi ke dunia ilmu komputer atau ilmu sains. Lalu bagaimana dengan instansi pendidikan SD hingga SMA yang notabenenya masih menggunakan software (perangkat lunak) BAJAKAN ?

Sebab dan Akibat Penggunaan Perangkat Lunak Tidak Berlisensi di Masyarakat Sekolah
Penggunaan Perangkat Lunak Bajakan, disebut juga dengan Perangkat Lunak Tidak Berlisensi, di instansi pendidikan biasanya dikarenakan pihak sekolah tidak mengetahui dan atau tidak peduli terhadap perangkat lunak yang dipakai. Keberadaan perangkat lunak-perangkat lunak bajakan yang dapat ditemui di trotoar di pinggir jalan raya pada siang hari pun memberi anggapan kepada mereka bahwa perangkat lunak-perangkat lunak yang mereka beli tanpa lisensi adalah bukan perbuatan melanggar hukum.

Yang menjadi permasalahan adalah para siswa didik yang mengikuti pelajaran komputer. Tentunya mereka harus menggunakan perangkat lunak yang sama seperti yang diajarkan di sekolah. Hal ini bisa menimbulkan semakin banyak orang yang menggunakan perangkat lunak tidak berlisensi. Akhirnya siswa-siswa terbiasa menggunakan perangkat lunak tidak berlisensi karena sekolah tempat dia belajar pun mengajarkan hal yang serupa, yaitu menggunakan perangkat lunak tidak berlisensi.

Kebiasaan ini tentunya menimbulkan masalah terhadap perilaku siswa dalam hal penggunaan perangkat lunak yang mereka pakai. Setelah dewasa, ketika perangkat lunak yang ada telah harus dibeli dengan lisensi, mereka tidak akan begitu saja akan membelinya. Karena telah terbiasa menggunakan perangkat lunak tidak berlisensi, akhirnya yang ada di benak mereka bagaimana cara mendapatkan perangkat lunak berlisensi tanpa harus mengeluarkan uang banyak. Mungkin dengan cara menyalin dari teman, atau mencari penjual yang menjual perangkat lunak tidak berlisensi, meskipun harus kejar-kejaran dengan polisi. Selain itu, sikap menghargai hasil pekerjaan orang lain pun boleh jadi sangat rendah dan ini bisa berimbas dengan menganggap remeh orang lain di masyarakat.

Sistem Operasi Proprietary di Dunia Pendidikan, Baik kah?

Sistem Operasi Proprietary dalam istilah ilmu komputer adalah sistem operasi yang bersifat Closed Source dengan EULA (End User License Agreement) sebagai perjanjian dalam pemakaian perangkat lunak. Biasanya sistem operasi ini memiliki lisensi yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah.

Penggunaan perangkat lunak tergantung kepada sistem operasinya. Hampir sebagian besar perangkat lunak dengan sistem operasi proprietary adalah berlisensi, termasuk perangkat lunak yang masuk ke dalam kurikulum pendidikan komputer di sekolah-sekolah di Indonesia.

Ada beberapa dampak yang bisa disimpulkan dari penggunaan sistem operasi proprietary dan perangkat lunaknya, terhadap kelangsungan pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan teknologi informasi.

  1. Pengguna perangkat lunak berlisensi diharuskan membayar beberapa jumlah uang untuk membayar lisensi produk kepada pengembang perangkat lunak. Biasanya satu perangkat lunak harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Bahkan ada beberapa perangkat lunak yang harganya mencapai puluhan juta rupiah, bahkan ratusan juta rupiah. Jumlah tersebut pun bukan untuk banyak komputer, tapi untuk satu komputer yang terpasang perangkat lunak tersebut. Alangkah sayangnya apabila dunia pendidikan Indonesia membayar uang sebanyak itu hanya untuk membayar lisensi perangkat lunak yang digunakan di komputer sekolah. Hal ini bisa menyebabkan naiknya anggaran pendidikan, baik untuk sekolah maupun untuk siswa. Kenaikan anggaran ini semakin memperkuat kesan bahwa dunia pendidikan mahal.
  2. Sebagian besar produk perangkat lunak EULA menawarkan penggunaan yang user friendly. Hal ini bisa membawa dampak pada siswa yang akan terbiasa dengan hal-hal yang mudah sehingga akan merasa enggan mempelajari perangkat teknologi informasi apabila menemui kesulitan dalam penggunaannya. Hal ini secara tidak langsung bisa berdampak turunnya kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi informasi di masa depan.
  3. Kemudahan dalam menggunakan perangkat lunak EULA ini tidak hanya dapat dirasakan oleh siswa, tapi juga oleh guru pengajar. Dengan perangkat lunak yang penggunaannya lebih mudah, lebih mudah juga bagi guru untuk mengajar, sehingga tidak menutup kemungkinan guru pun akan terlena dengan kemudahan ini dan agak enggan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang komputer yang bisa berdampak tidak bertambahnya pengetahuan siswa.
  4. Biasanya komputer yang menggunakan sistem operasi closed source, seperti  Windowsnya Microsoft, rentan terkena virus komputer dan relatif kurang stabil. Hal ini berdampak pada besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan dan pemeliharaan komputer. Pemasangan aplikasi lunak anti virus yang berfungsi menghalau dan menghilangkan virus pun tampaknya bukan jalan keluar yang baik karena kehandalan dan kestabilan komputer menjadi terganggu. Biasanya komputer akan berjalan lebih lambat sehingga bukan tidak mungkin dapat menyebabkan terganggunya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Linux, Pilihan OSS yang Tepat untuk Dunia Pendidikan Saat Ini

Salah satu cara yang dianggap paling relevan untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan menggunakan OSS untuk Kegiatan Belajar Mengajar mata pelajaran komputer di instansi pendidikan SD hingga SMA. Sekarang ini telah tersedia banyak OSS. OSS yang paling banyak dipergunakan dan dikembangkan sampai saat ini adalah Linux.

Penggunaan Linux untuk instansi pendidikan, dalam hal ini dalam Kegiatan Belajar Mengajar mata pelajaran komputer, tampaknya bisa jadi pilihan yang cukup tepat. Pekik Nurwantoro dalam artikelnya yang berjudul Kontribusi Saintifik dari Sistem Open Source dalam Komunitas Akademik yang diterbitkan dalam buku Open Source Linux menuliskan 3 alasan bahwa Linux memang tepat untuk menggantikan Sistem Operasi Komersial seperti Microsoft Windows.

Alasan pertama adalah Linux merupakan sistem operasi yang mampu mengatur lalu lintas informasi antara pengguna dan komputer sehingga dapat mengerjakan apapun dengan komputer. Alasan kedua adalah Linux merupakan salah satu sistem operasi yang siap dipergunakan pada berbagai prosesor, mulai dari kelas PC berbasis Intel, Apple, PowerPC, Amioga, dan Atari hingga kelas workstation berbasis DEC ALPHA/AXP, RiscPC, dan Sparc. Alasan yang ketiga adalah kecenderungan beberapa pihak yang mengizinkan pemakaian aplikasi yang dikembangkan secara bebas asalkan dipergunakan dalam Linux.

Selain ketiga alasan di atas, setidaknya ada dua alasan tambahan mengapa Linux tepat untuk diterapkan dalam mata pelajaran komputer di sekolah-sekolah, dan tepat untuk sekolah-sekolah mulai bermigrasi ke Linux saat ini.

Alasan pertama adalah Sistem operasi Linux tidak hanya dikembangkan dan ditujukan untuk kepentingan bisnis semata. Belakangan ini ada beberapa varian Linux yang sedang mengembangkan Linux yang sengaja dikembangkan dan ditujukan untuk dunia pendidikan. Salah satunya adalah Linux Ubuntu yang telah mengeluarkan dan terus mengembangkan salah satu varian Linux yang disebut Edubuntu. Hal ini patut dijadikan pertimbangan bagi sekolah-sekolah di Indonesia untuk memulai migrasinya ke OSS.

Alasan kedua adalah telah tersedianya perangkat lunak substitusi dengan kemampuan yang sama dengan perangkat lunak berlisensi, dalam hal ini perangkat lunak yang dijadikan bahan pelajaran dalam sistem operasi Microsoft Windows. Misalnya saja untuk pelajaran Bahasa Pascal, bisa digantikan dengan GNU Pascal GPC di Linux yang setara dengan Turbo Pascal 7.0 di Windows. Untuk membuat dokumen pun Linux telah menyediakan Open Office yang tidak kalah kemampuannya dengan Microsoft Office di Windows.

Keuntungan Sekolah dengan Memakai Linux dalam Mata Pelajaran Komputer

Dari uraian di atas, ada beberapa keuntungan yang dapat disimpulkan dari menggunakan Linux dalam mata pelajaran komputer di instansi pendidikan SD hingga SMA, yaitu:

  • Linux bersifat free sehingga diharapkan mampu menekan biaya yang tinggi dari pengadaan perangkat komputer, khususnya perangkat lunak.
  • Kestabilan dan kehandalannya serta relatif bebas virus komputer, boleh jadi kekuatan dan keunggulannya selama ini. Dengan kekuatan dan keunggulannya ini diharapkan mampu menekan biaya perawatan dan pemeliharaan perangkat di komputer, khusunya perangkat lunak, serta mampu memperlancar KBM.
  • Program yang dimiliki oleh Linux lebih cocok untuk dunia pendidikan. Apalagi dengan adanya beberapa Linux yang didedikasikan untuk dunia pendidikan, seperti Ubuntu dengan Edubuntunya, hal ini menambah kekuatan Linux sebagai perangkat lunak yang cocok diterapkan di dunia pendidikan.
  • Meskipun penggunaan Linux agak sulit dibandingkan sistem operasi komersial seperti Microsoft Windows, namun hal ini diharapkan mampu membentuk mental pelajar Indonesia agar mau selalu mencoba dan mencoba. Lebih dari itu, siswa diharapkan bermental selalu mencari, menemukan hal baru, dan mengembangkannya. Hal ini tentu sejalan dengan misi dunia pendidikan Indonesia yang ingin membentuk manusia Indonesia yang kreatif dan inovatif.
  • Dengan mental mencari, menemukan hal baru, dan mengembangkannya, kemampuan siswa di bidang komputer, khususnya siswa SMP dan SMA, bisa meningkat. Bahkan tidak menutup kemungkinan setara dengan lulusan perguruan tinggi untuk hal penguasaan bahasa pemrograman tertentu. Hal ini secara tidak langsung berdampak kepada meningkatnya kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi informasi.

Sudah seharusnya dunia pendidikan dasar Indonesia mulai melirik OSS sebagai perangkat dalam bahan pembelajaran komputer, khususnya teknologi informasi. Tugas ini bukanlah tugas yang harus dipikul oleh pihak dari instansi pendidikan semata. Insan-instan TI tanah air pun sudah seharusnya mulai ikut aktif membantu menggalakan penggunaan OSS di lingkungan pendidikan di Indonesia. Dengan strategi yang tepat dan kerjasama yang baik, semoga dunia pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan di bidang teknologi informasi, menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hidup Open Sources untuk Edukasi Indonesia 


sumber penulis :

Yudha P Sunandar

yudha.spiza@gmail.com

Penulis adalah pendiri dan pengurus ULOS (Unpad Linux and Open Source) Community dan anggota dari KLUB (Klub Linux Bandung).


Radite Putut

Blogger dengan kerja sambilan Designer Freelancer.

No comments: